Selasa, 12 Agustus 2008

Agustus, 13 -2008

Dalam pikiranku mencoba menerawang untuk mencoba menafsirkan ayat, 13 surat al-hujurat


يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ



Al-Qur'an disamping menggunakan alat panggil (khitab) bagi orang beriman (ya ayuhaladzina amanu) juga menggunakan alat panggil (ya ayuhannasu). kalau kita mencermati panggilan Allah yang menggunakan hai manusia (ya ayhanassu) mengandung aspek universalitas kehidupan manuasia. atau sesuatu yang secara naluri dipahami dan dihayati oleh semua manuisa sebagai suatu keniscayaan. dan telah dimaklumi seca rasional



Dalam ayat ini Allah swt, memanggil nilai-nilai kemanusian yang secara rasional dipahami dan dimaklumi bahwa setiap manusia terl ahir dari laki-laki . Yaitu secara universal manuarsia hanya terdiri dari dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan. Bila dalam kehidupan ini ada claim, jenis kelamin lain, sebut saja banci, maka hal tersebut telah melanggar nilai-nilai universal

dan hal penyimpangan tersebut bukan untuk dilembagakan tapi harus diobati, jangan dikembang biakan.

Kemudian dalam ayat tersebut ALlah, kembali menggambarkan nilai-nilai univernsalitas dengan alasan sosiologi, dimana dari spisis terkecil bernama keluarga yang terjadi karena perkawinan laki-laki dan perempuan , terbentuklah komunitas marga, clan, atau suku sebagai sebuah keniscayaan sosial. setip marga atau suku mempunyai cara dan budaya sendiri yang harus kita apresiasi sebagai sebuah keniscayaan. Dalam ayat tersebut di atas Allah memrintahkan kepada kita untuk saling mengenal tetapi dalam ayat tersebut tidak disebut apa yang harus saling mengenal, kalau melihat ayat tersebut sebelum Allah memerintahkan saling kenal. Allah menyebut komunitas suku bangsa, berarti yang harus dikenal itu adalah prilaku dan budaya serta adat istiadat dari suku tersebut. Untuk apa kita saling mengenal, sudah barang tentu bukan sebatas kenal tapi ada pelajaran yang bisa kita ambil.
  1. memaklumi adanya perbedaan
  2. Menyadari bahwa kita sebagi bagian dari komunitas bangsa atau suku mempunyai budaya sendiri, yang harus kita hargai.
  3. Kita idak boleh mengkerdilkan budaya lain
  4. Islam tidak menghakimi dan mepredikati suatu budaya dengan baik dan buruk
  5. standar budaya yang bisa kita ambil adalah budaya yang consent dengan semangat syari

bersambung

Senin, 04 Agustus 2008

Live Is My choice

Hidup itu kita, artinya semua yang menentukannya adalah kita. Mau maju mau mundur terserah kita. Manusia adalah makhluk merdeka, didepan kita jalan terbentang luas mau lewat kiri, lewat kana dipersilahkan. Tetapi harus diingat sebuah pilihan berbuah konsekwensi yang harus diterima akibatnya oleh kita. Memilih, ya itulah kata tepat untuk maju. Kita dalam hidup selalu dan selalu dihadapkan pada sebuah pilihan. Dari hal sepele sampai masalah tidak sepele. ketika anda membaca tulisan ini sebetulnya itu sebuah pilihan, dari pilihan yang lainnya, anda mungkin mengeyampingkan opsi-opsi yang lain. seperti ngobrol, makan atau yang lainnya atau membaca topik lain, itulah pilihan. Bahkan ketika kita telah memilih sebuah opsi dalam hati kita tak akan hilang dari bisikan untuk memilih opsi yang lain yang tak jarang menganggu ketekunan kita mendalami opsi pertama yang akhirnya terseret dan gagal.

Allah telah memberi kita akal sebagai pengadil terhadap variasi opsi pada diri kita, secara fitrah atau naluri manusia akan memilih sesuatu yang mengenakan dan menyenangkan bagi dirinya, bila ada dua tempat duduk, yang satu bersih empuk and nyaman, yang satunya lagi kotor reyod dan keras, nalurinya akan memilih yang pertama karena dalam bayangannya akan lebih mengenakannya. Tetapi akal semata tanpa dilandasi dengan ilmu pengetahuan pilihannya bisa jadi menyengsarakannya, lihatlah kita anak kita yang berumur satu tahun diberikan dua pilihan antara makanan dan api, dia memilih api, karena dalam pandangannya api lebih menyenangkan seperti kasus nabi musa as.
Akal rentan di susupi abisi subjektif dan hawa nafsu, bahkan akal sehat bisa kalah dengan nafsu. seorang perokok, penjudi atau pelaku maksiat lainnya. Saya yakin akalnya menyatakan itu semua tidak baik tapi kenapa mereka tidak bisa lepas itulah nafsu.

Dalam kehidupan, kita dihadapkan pada berbagai pilihan. Ada pilihan itu yang sudah kita ketahui kebaikannnya, adapula yang tidak kita ketahui atau belum ada pengetahuan, bagi pilihan yang telah kita ketahui kebaikannya kita gampang memilih. Bila dihidangkan dua makanan yang satu pedas yang satunya lagi tidak, sementara kita kita mempunyai penyakit maag sebagai pengetahuan, maka kita akan memilih yang tidak pedas. Tetapi ketika kita dihadapkan pada pilihan yang tidak ketahui manfatnnya dan madharatnya, kita sering dihadapkan pada sebuah pilihan yang rumit. apalagi bila pilihan itu menyangkut pilihan untuk sebuah masa depan. Tarohlah untuk memilih sekolah anak, apakah ke SMP atau MTsN, apakah anda mendaptar menjadi PNS atau wiraswasta.
Anda pernah kecewa, atau menyesal. Salah satunya karena kesalahan memilih. maka dari itu kita coba meruntut tindakan yang harus kita lakukan ketika kita dihadapkan pada sebuah pilihan.

  1. Tujuan Memilih
  2. Manfaat pilihan
  3. Mengetahui konsekwensi sebuah pilihan
  4. Mendesak dan tidaknya
  5. Tidak memilih tanpa persiapan

bersambung