Allah telah memberi kita akal sebagai pengadil terhadap variasi opsi pada diri kita, secara fitrah atau naluri manusia akan memilih sesuatu yang mengenakan dan menyenangkan bagi dirinya, bila ada dua tempat duduk, yang satu bersih empuk and nyaman, yang satunya lagi kotor reyod dan keras, nalurinya akan memilih yang pertama karena dalam bayangannya akan lebih mengenakannya. Tetapi akal semata tanpa dilandasi dengan ilmu pengetahuan pilihannya bisa jadi menyengsarakannya, lihatlah kita anak kita yang berumur satu tahun diberikan dua pilihan antara makanan dan api, dia memilih api, karena dalam pandangannya api lebih menyenangkan seperti kasus nabi musa as.
Akal rentan di susupi abisi subjektif dan hawa nafsu, bahkan akal sehat bisa kalah dengan nafsu. seorang perokok, penjudi atau pelaku maksiat lainnya. Saya yakin akalnya menyatakan itu semua tidak baik tapi kenapa mereka tidak bisa lepas itulah nafsu.
Dalam kehidupan, kita dihadapkan pada berbagai pilihan. Ada pilihan itu yang sudah kita ketahui kebaikannnya, adapula yang tidak kita ketahui atau belum ada pengetahuan, bagi pilihan yang telah kita ketahui kebaikannya kita gampang memilih. Bila dihidangkan dua makanan yang satu pedas yang satunya lagi tidak, sementara kita kita mempunyai penyakit maag sebagai pengetahuan, maka kita akan memilih yang tidak pedas. Tetapi ketika kita dihadapkan pada pilihan yang tidak ketahui manfatnnya dan madharatnya, kita sering dihadapkan pada sebuah pilihan yang rumit. apalagi bila pilihan itu menyangkut pilihan untuk sebuah masa depan. Tarohlah untuk memilih sekolah anak, apakah ke SMP atau MTsN, apakah anda mendaptar menjadi PNS atau wiraswasta.
Anda pernah kecewa, atau menyesal. Salah satunya karena kesalahan memilih. maka dari itu kita coba meruntut tindakan yang harus kita lakukan ketika kita dihadapkan pada sebuah pilihan.
- Tujuan Memilih
- Manfaat pilihan
- Mengetahui konsekwensi sebuah pilihan
- Mendesak dan tidaknya
- Tidak memilih tanpa persiapan
bersambung

Tidak ada komentar:
Posting Komentar